Sunday, 12 October 2014

Datang kembali

"Setelah pergi tanpa pamit, saya pun datang tanpa tanda-tanda."

Berbulan-bulan sudah, saya sibuk dengan rutinitas seorang mahasiswa tingkat akhir. Mengerjakan ratusan baris naskah yang menjadi tempat untuk menggantungkan nasib, skripsi. Gelar sarjana ekonomi saya benar-benar menjadi taruhan yang tidak main-main. Jadi mungkin itu yang menjadi perkara kenapa saya benar-benar lupa untuk sekedar mampir ke blog ini.

Sejak tulisan ini saya buat, bukan berarti skripsi saya kelar lho. Hanya saja, waktu saya sedikit lebih longgar karna sedang menunggu revisi bab 4. Setelah revisi bab 4 sampai di tangan, itu persoalan lain yang belum bisa saya duga. Kita doakan saja, semoga revisinya kali ini mau lebih bersahabat dengan saya.

Awalnya saya ga berniat sama sekali untuk menulis pesan "datang kembali" seperti ini. Rencana awal, langsung saja memasukkan teks seperti biasa. Toh blog ini lebih banyak dinikmati oleh diri saya sendiri. Tapi anehnya, pada saat (mencoba) kembali menulis, bahasa saya jadi kaku dan jauh dari kata menarik. Padahal kalau diperhatikan, saya hampir selalu menulis setiap harinya. Bedanya hanya pada jenisnya saja. Kalau biasanya menulis sasta, beberapa bulan ini saya getol menulis skripsi yang lebih menjurus ke arah artikel. Ah...

Sepertinya saya harus mulai lagi pelan-pelan. Mulai membaca-baca lagi bacaan "remeh-temeh" yang bisa memperkaya bahasa tulis saya. Dengan harapan kedepannya saya bisa mulai terbiasa dan ga lagi ragu-ragu sama apa yang saya hasilkan.


Sunday, 19 January 2014

Percaya

Kau boleh saja ragu. Mempertanyakan sejauh mana kau dapat menggapai titik asa. Tapi jangan pernah lupa untuk kembali mencari. Karna jawaban selalu ada dalam kalbumu. 

Jika kamu memang selalu sekasar itu, jangan lukai dirimu. Cukup diam dan renungi semua gundahmu. Karna sunyi selalu mampu memberimu jalan. Menuju apa yang kau teorikan tentang bahagia. 

Jangan pula banyak mendengar. Karna nyatanya indramu tak sekuat itu, jauh lebih rapuh di dalamnya. Dan segala tutur tak lebih dari sebatas kesan pribadi, bukan sesuatu yang perlu dibenarkan.

Kau hanya perlu berjalan di muka. Lalu melihat kemantapan hatiku.

Tentangmu.

Kau tidak akan mengerti duniaku

pict source: http://fineartamerica.com/featured/dont-leave-me-alone-in-this-bed-lauren-xenos.html

Fajar
Aku hampir selalu linglung selepas fajar. Waktu tidurku yang berantakan selalu membuatku melewatkan azan Subuh dan aroma embun segar. Tidak seorangpun menegurku, membangunkanku barangkali lewat ponsel, apalagi membuatkanku secangkir kopi sebagai sarapan. Hidupku benar-benar kacau, seperti waktu yang juga tak bersahabat. Lewat pukul sembilan.

Aku hampir selalu terburu-buru. Menunda mandi pagi dan tak sedikitpun mengenakan wewangian. Mungkin juga masih dengan mengenakan setelan tidur tadi malam. Mengejar aktivitasku yang bahkan hampir tak bisa datangi tepat waktu.  Melewati beberapa waktu perjalanan yang hampir selalu sendiri. Ah andai saja ada seorang kawan yang mau menumpangiku.

Aku hampir selalu tak mengenal rasa bersalah. Saat pintu ruangan sudah benar-benar tertutup untukku, aku hanya diam. Tidak sedikitpun kecewa, justru mengutuk ketidakadilan yang selalu kudapati setiap pagi. Bagiku, keterlambatan tak memiliki batas toleransi.

Mengapa pagi selalu gagal berteman baik denganku. Aku hampir gerah dibuatnya. Rutinitas serba kilat yang tak sedikitpun aku nikmati. Aku kehilangan segalanya saat pagi dan itu benar-benar payah. 

Tengah Hari
Aku menelusuri sepanjang kampus, menikmati kesendirianku. Sesekali mempertajam pikiranku dengan artikel-artikel kaskus dalam smartphoneku. Tak banyak memang yang bisa aku kerjakan karna hidupku hampir benar-benar tidak dapat ditata kembali. Pulang ke kamar sewaanku juga bukan pilihan yang baik. Nyatanya aku hanya akan seperti kambing guling di atas kapuk. Tak berdaya.

Dalam hal berbusanapun aku terhitung jarang menjadi perhatian. Aku selalu merasa baik-baik saja dengan setelan yang menurut banyak orang tergolong lusuh. Tanpa perlu melihat busana apa yang sedang menjadi incaran, kaos dan celana belel selalu terasa pas. Dan jika rata-rata pria sudah mulai bersolek, aku tetap santai dengan memilih tidak peduli. Karna mungkin aku tidak paham dunia yang satu ini.

Sesekali aku masuk ke dalam gerombolan manusia, berbincang-bincang dan berpindah setelahnya. Tidak banyak yang bisa aku sampaikan, karna sepatah katapun tak ada yang menatapku, apalagi menyimak. Hanya wajah-wajah bergurau yang selalu kudapati, pandangan meremehkan dan sering kali menghindar. Banyak yang bilang, aku terlalu banyak berbicara. Memvisualkan apa yang selalu kubaca dan itu tak benar-benar dapat dimengerti. 

Jika umumnya orang akan menuntut perhatian, aku hanya diam. Menerima semua perlakuan akan segala sikapku. Mandang segala bentuk cemoohan sebagai cara bergurau yang asik. Karna aku tidak benar-benar memahami emosi seseorang. Entah itu marah, sedih, selalu sama di mataku. Bagiku semua adalah teman bicara yang tak dapat digambarkan. Pertemanan tak selalu manis, bukan?

Senja
Menjelang sore hari, dunia sepertinya tidak juga berbaik hati denganku. Aku masih saja sendiri dan berpindah-pindah. Tak ada tempat yang benar-benar menerima tabiatku secara utuh. Entahlah siapa yang harus dipersalahkan. Aku atau mereka, kita sama-sama tidak saling memahami. Dan mungkin sampai kapanpun, kau tak akan mengerti duniaku.


*Menjabarkan apa yang tak benar-benar kita rasa ternyata tidak terhitung mudah. Mungkin menggambarkan visualisasi seseorang butuh waktu panjang. Semoga karya pertama ini bukan tergolong buruk.

Sunday, 1 December 2013

Jangan mendebat sastra!

pict source: http://literary-tattoos.tumblr.com/

Jangan mendebat sastra! Walau hanya bentukan dari rangkaian bahasa. Ia selalu punya tutur yang liar, tanpa batasan. Kadang lembut, lalu membuatmu takut setelahnya. Karna ia peramu rasa paling jitu. Siapapun dapat tenggelam karna pekat bisiknya.

Jangan mendebat sastra! Walau sering kali kau bertanya tentang apa yang dicampurnya, ia tidak akan pernah membuka mulut. Sekalipun untuk sekedar menjawab kebingunganmu. Karna ia tercipta untuk membuatmu merenung. Memberi jeda untuk membayangkan apa yang sedang ia coba jabarkan.

Jangan mendebat sastra! Walau memiliki tafsir yang hampir berlapis-lapis, ia selalu punya penyampaian yang kontras bagi setiap penikmatnya. Karna baginya, logika takkan mampu melukiskan tubuhnya.Ia akan tetap bersembunyi dalam ruang imaji.

Jangan mendebat sastra! Walau tanpa kafein yang mengendap di pangkal cawannya, ia masuk dalam barisan candu akut. Selalu datang dengan teka-teki. Dan siapapun ingin memecahkannya, dalam barisan bait-bait. Karna ia tak penah memiliki rumus. Hanya sebatas teori rasa yang terus mengarung, jauh.

Tuesday, 12 November 2013

Pemburu para pemancing tawa

pict source: http://carolynannryan.com/blog/?p=1016

Sastrawan kekinian hadir dalam bungkus yang nyaris sama, sebendel naskah yang diseduh dengan berbagai gaya penulisan. Namun sepetinya para penyair saat ini tau betul bagaimana kebutuhan publik yang nyatanya haus akan tawa. Hingga akhirnya harus datang dengan membawa kotak pandora penuh gelak.

Kadar duka yang tinggi di negri ini mungkin membuat para pemancing tawa menjadi primadona. Penikmat dari berbagai lapisan pun seperti mengalami candu tak terobati. Karna kini, penat cukup terbayar dengan sepotong tawa. Sebatas diawali kicauan satu dua wacana humor saja, mampu membuat seseorang mengantongi ribuan penangkap tawa. Mereka menyerukan kekaguman yang hanya datang karna emosi mulai terbawa kocak. Dan itu terhitung maha karya.

Jika boleh berprinsip, bukankah sastra itu membawa pesan yang begitu damai. Harmoni aksara yang terdengar pun bukan untuk ditertawakan, tapi direnungi. Membacanya lamat-lamat adalah obat jenuh paling ampuh. Menikmati romantisme sastra dramatis bersama Dewi Lestari, merinding mengeja bahasa tulis Laksmi Simanjuntak, merenungi dongeng Tere Liye dan membaui aroma para pujangga tulis kenamaan adalah suka yang tak tebendung. Menerawang setiap plot di dalamnya dengan imajinasi yang tak berujung. Karna sastra selalu punya makna yang tak mengenal batas.

Lalu kenapa tidak mencoba berehat memburu tawa. Karna orkestra sastra tak melulu soal warkop tawa. Selami lebih dalam lagi, maka itulah alunan bahasa yang merdu.