Friday, 17 May 2013

Semua akan indah pada waktunya

Streaks of Dian Martha at 22:37
How this post gone? 
0 comments


"Dari puluhan yang datang dan pergi, apakah mungkin ada satu saja namamu di dalamnya. Setidaknya hanya sekedar melintasi muka rumahku. Walau tak pernah punya hati untuk sekedar mengetuk, aku cukup bersyukur, karna cemas itu mulai pudar."

Mungkin kau tak akan pernah menanyakan, mengapa semua tulisan-tulisan rasa ini selalu beralamatkan namaku sendiri. Seakan-akan aku tak punya cukup ruang untuk berdialog dengan diriku sendiri. Tapi pernahkah kau ingin tahu, bahwa setiap pucuk surat itu selalu mengisahkan seseorang yang sama. Seseorang yang bahkan tak pernah bosan aku diskusikan dengan pena, kertas, dan sepucuk amplop merah jambu.

Mungkin kau tak akan memahami, mengapa seseorang memilih menunggu dengan dirinya sendiri. Membiarkan mimpinya hanya menjadi angan-angan dalam ruang-ruang hatinya. Berharap seseorang yang dipuja akan memilihku sebagai pemberhentian. Entah untuk sekedar berehat lalu pergi lagi, atau mungkin akan menetap dan tidak melanjutkan perjalan. Semua tetap terasa sama, karna bagiku bahagia itu adalah dirimu.

Mungkin kau tak akan berempati, mengapa seseorang memilih menjadi pemendam daripada menjadi pengungkap. Menyimpan puluhan bahkan ratusan rasa-rasa dalam pundi-pundi terdalam. Membiarkan setiap cerita menjadi investasi hati yang paling mahal. Dan jika saatnya tiba, maka semua akan menjadi harta yang tak pernah dapat terukur kadarnya.

Mungkin karna aku yakin akan satu hal ...

"Semua akan indah pada waktunya"

setidaknya

Streaks of Dian Martha at 20:58
How this post gone? 
0 comments

Wednesday, 15 May 2013

Biar

Streaks of Dian Martha at 14:11
How this post gone? 
0 comments

Maka biarkan aku menghirupnya sejenak, aroma nafas yang datang dari rindu ribuan mil. Walau hanya di terangi langit remang, aku puas berhimpitan. Membiarkan tubuh kami saling melekat, dekat.

Waktuku pun tak banyak, jadi bolehlah aku memeluknya dalam-dalam. Walau tidak dengan kedua lenganku, setidaknya hening ini mewakilkan. Biar semua diam, mencoba merangkul akal satu sama lain.

Dialog geming ini langka, lalu kenapa harus menerobos kebisingan. Bukankah jeda yang lalu sudah terlalu jauh membawa kita. Biar saja begini, karna aku bisa mendengar raungan rindu yang parau.

Mungkin juga, haru...


Hai, selamat ...

Streaks of Dian Martha at 13:12
How this post gone? 
0 comments

Hai, selamat petang pujangga. Masih betah bergemelut dengan "lemah"? Membahasakan setiap ketidakmampuanmu dalam sebendel curahan hari. Membiarkan semangatmu hanya tersimpan dalam lembaran-lembaran beralamatkan dirimu sendiri.

Hai, selamat malam pemendam. Bukankah sahabat rasamu sudah ingin terlelap? Walau serasa lembut mengunyah setiap bait dukamu, pangkal perutnya sudah mulai terasa nyeri. Dia butuh ruang untuk mencernanya. Mungkin dalam satu peristirahatan.

Hai, selamat pagi pemimpi. Tidakkah kau ingin mencium aroma mentari? Di luar jendela lelapmu, suara-suara kicau sudah mulai membagikan berkahnya. Menghadiahkan "nyata" bagi yang mampu bebas dari jaring-jaring mimpinya. Karna sebatas angan, tak lebih dari sekedar renungan.

Hai, selamat siang penanti. Berapa waktu lagi kau akan mengurung diri? Memilih bersembunyi karna enggan merasakan gusar. Berharap seseorang datang membawa beberapa ulur empati. Berdoa agar kesendirianmu ini merupakan jalan yang paling menenangkan.

Hai, selamat berpisah perasa. Maukah kau membebaskanku dari luapan pikirmu? Aku lelah melayani ketidakyakinan hidupmu. Bahkan jika harus mensakralkan kepergian, aku akan menyalamimu di muka. Tak lagi melambai dari belakang punggungmu.

Hai,

Kau lebih dari apa yang kau perkirakan atas dirimu

Dua Senyawa

Streaks of Dian Martha at 12:22
How this post gone? 
0 comments

Tuhan hanya menyisakan kita sepenggal kata yang beriringan
Entah dengan doa yang dihantarkan atas rasa yang berbeda
Atau cerita yang diakhiri dengan lafas yang tak sama
Aku masih dapat mengejanya dengan sangat fasih
Mereka-ku yang menyematkanya persis di antara dua cahaya
Mereka-mu yang menjadikannya prolog dalam bagian dirimu

Mungkin karna hanya sebatas penggalan kata,
tak ada lagi ruang bagi kita untuk sekedar melebur
Karna hampir seluruh langkahku bertuan lama
Jadilah kita senyawa yang tak pernah bisa dimengerti
Jika kau ke utara, maka aku akan memijak selatan
Begitu mungkin sebaliknya

Aku lebih sering memilih lunak sepihak,
saat kau mulai mencekat semua yang menghalang
Mungkin aku yang juga membuatmu serasa berjalan di tempat
Karna kau lebih sering mengabaikan keibaanku
Menuju apa yang selalu kau yakini, kau ingini
Menutup rapat-rapat setiap rongga dalam tubuhmu
Ya, bisikanku mungkin hampir seperti racun

Hey, kau yang selalu dipanggil amarah
Harus bagaimana aku mengimbangi langkahmu
Bukan untuk menjadi refleksi bayanganmu
Namun tak lebih dari menopang jatuhmu
Entah di langkah berapa jauhnya,
aku dapat melihat sesuatu memerosokkanmu
jauh...

 

the final notes Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos