Sunday, 1 September 2013

Terapi Luka (mari stop kekerasan!)

pict source: http://craiggphotography.blogspot.com/2009/06/need-more-magnification.html

Aku masih belajar mengeja kala itu. Mengeja bilangan yang entah untuk alasan apa harus saling mengurangi dan melengkapi. Mengeja setiap bahasa yang menyatu dalam sepetak ruang pengap. Dan sesekali menyimak bagaimana amarahmu mencapai titik merah.

Aku tidak terlahir dengan rasa ingin tahu yang buruk. Apalagi jika hanya merangkai setiap ilmu dalam satu hari, itu mudah. Pulang petang pun aku jarang mengeluh. Karna sungguh, aku hampir selalu menikmati setelan merah putih yang seragam. Setidaknya aku tak perlu susah-susah menutupi latar belakangku yang bukan dari keluarga berada.

Jika kau sempat menengok, kami begitu ramai saat bel istirahat berdentang. Gadis-gadis kecil berakon layaknya wanita yang menginjak dewasa. Menyulap ruang belajar yang kuno menjadi pusat perbelanjaan yang cantik. Meja dan kursi seolah dipenuhi ratusan gaun indah. Tanpa modal apapun, kami yang sangat suka sekali bergaya, begitu menikmati sandiwara yang kami ciptakan. Karna kami selalu percaya, busana yang cantik akan membawamu menuju kecantikan sejati.

Tapi sayangnya, semua tidak lagi sama, sampai akhirnya kami semua menyerah padamu. Termasuk aku. Bertekuk lutut atas kuasa yang jelas berada dalam genggamanmu. Status pendidik yang kau sandang membuat kami terpaksa harus menurut saat jam istirahat usai. Entahlah, mungkin hanya aku saja yang diam. Bersembunyi dalam ketakutanku sendiri. Mengunci rapat setiap kisah yang merubah mentalku. Menyembunyikan memar yang hampir selalu kudapati setiap hari. Kini aku seorang gadis yang penakut. Juga penutup.

Entah bagaimana rasanya, tapi pukulanmu tidak begitu keras. Sama sekali tidak perih di tubuh, tapi nyeri sekali di dalam batin. Mungkin alat pengukur kayu yang hampir selalu kau asah, bukan hal besar bagi tabiatmu yang tempramen. Tapi sebilah mistar itu mampu membuatku kelihalangan waktu tidur berbulan-bulan. Selalu berdoa untuk malam yang panjang, karna aku selalu benci saat waktu sarapan tiba. Melewati perjalanan menuju sekolah yang hampir seperti film horor. Setengah mati bersandiwara pada seisi rumah agar terlihat tegar. Tapi sungguh, aku tidak lagi mencintai putih merah.

Dan waktu terus berlalu, hingga ketakutanku mencapai titik puncak. Hingga akhirnya berhari-hari harus dilewati dengan tidak sadarkan diri. Seisi rumah mencemaskan situasiku. Tubuhku lemas, entah di bawa ke mana oleh Tuhan. Tapi aku tak lagi mampu menyampaikan ketakutanku. Tolong aku.

Setelah melewati opname yang cukup panjang dan sulit, pelan-pelan aku mengobati sakit yang entah terletak di ulu bagian mana. Berbincang dengan dokter ahli jiwa tentang kekerasan yang menimpaku selama ini. Sampai akhirnya aku positif dinyatakan pulih dan berhasil bangun dari mimpi buruk berbulan-bulan yang lalu.

Kini aku jauh lebih baik. Setidaknya aku mampu menghadapi orang secara perlahan. Belajar memulai percakapan walau dengan ketakutan yang masih sesekali datang. Walau butuh bertahun-tahun untuk belajar untuk masuk ke dalam sosial tapi aku menyukuri semua kisah masa kecilku. Mungkin ini bagian dari anugrah Tuhan. Sesekali aku masih sering menangis, terutama jika ada yang menggertakku atau melihat sekilas praktik kekerasan. Tapi semua memang butuh proses.

Aku tidak lagi takut dengan dunia. :)

***

Tulisan ini saya buat atas bentuk penolakan terhadap kekerasan dan rasa nyeri yang masih membekas hingga saat ini. Mungkin pengalaman masa kecil saya bisa menjadi pelajaran buat siapapun yang kebetulan membaca. Setidaknya semua bisa melihat bahwa mengobati trauma akan kekerasan bukan hal yang mudah. Mari kita sama-sama menghindari kekerasan. Dalam bentuk apapun.

No comments:

Post a Comment