Monday, 26 August 2013

mesin penenun hujan

lyrics source: http://blog.dhanza.web.id/2010/05/12/lyric-frau-mesin-penenun-hujan/

Saya sendiri bingung, untuk apa menjadi awan. Jika sebatas hujan saja sudah membuat semua rindu dengan aroma basahnya. Mengendusi setiap tanah yang melembab diterjang kawanan rintik. Mungkin awan bentuk dari kekuatan, karna awan umumnya selalu besar, seperti menggumpalkan sesuatu di dalamnya. Dan hujan seperti refleksi akan kesendirian dan kerapuhan. Karna koloni mineral itu lebih memilih hidup terbagi-bagi, jatuh dengan tanpa menggenggam siapapun.

Saya juga masih ragu dengan kebalikan yang dimaknai. Karna selalu kewajaran yang saya fahami. Dan jika kebalikan tergurat dalam raut seorang pemimpi, tak ada yang bisa saya bayangkan. Mungkin mata tidak lagi mengindra sesuatu dalam jangkauan yang tinggi, tapi mulut sudah menjadi manuver paling teratas. Entahlah, saya bukan penghayal yang jitu.

Dan pada akhirnya semua kata seperti milik para pengembara hati. Semua selalu kembali kepada rasa. Dan kisah sang penenun, berakhir pada dirinya sendiri. Kekecewaannya akan seikat cinta dan rindu. Ia terlalu mahir mengkanvansnya. Lalu membaginya dalam kepingan-kepingan yang dimemori siapapun.

***

Sajak itu bukan aksara seorang pujangga, tapi hasil tenunan seorang perangkai melodi. Mungkin ia juga mencintai bahasa di sela-sela nadanya. Karna dua senyawa itu selalu punya ruh yang mampu mencekat siapapun. Termasuk saya. Pengembara yang datang terlambat. Tapi, apa masih adakah waktu untuk menyelipkan kekaguman? Saya terlalu gila dengan secangkir suguhan yang diramunya.

Luar bisa.

No comments:

Post a Comment