Sunday, 7 April 2013

Negeri di Ujung Tanduk

pict source: pengenbuku.net
"Mengahabiskan hampir seluruh jam tidur hanya demi sekuel ke dua Negeri Para Bedebah. Novel politik ekonomi ini benar-benar membuat insomnia saya kambuh dan lupa kalau besok ada rutinitas yg tidak mudah dilalui tanpa istirahat cukup. Duabelas episode yang sudah saya rampungkan, tidak sedikitpun menyisakan kekecewaan. Bahkan nyaris sempurna. Benar-benar ciri khas seorang Tere Liye, memukau pembaca hampir di setiap detail momen tulisannya. Membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Membawa fantasi saya akan tokoh Thomas terus melayang dalam langit-lagit pikiran. Mengajak saya semakin dalam mendalami karakter konsultan keuangan tersohor itu. Dan masih ada 20 episode ke depan hingga akhirnya bait terakhir menjawab ketegangan saya. Bagaimana akhir nasib dari negeri ini ditangan seorang pria yang mengaku sebagai petarung sejati. Sungguh, sebendel naskah narasi ini benar-benar membuat saya candu dalam beberapa waktu. Entah sampai kapan. Negeri di Ujung Tanduk."


Di Negeri di Ujung Tanduk
kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.
Di Negeri di Ujung Tanduk
para penipu menjadi pemimpin, para penghianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.
Tapi di Negeri di Ujung Tanduk
setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, mengusap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

No comments:

Post a Comment