Sunday, 14 April 2013

Aku Lelah


pict source: joanneyoung.deviantart.com

Jika kau mulai mengeluhkan tempramenku yang entah datang dari mana, aku tidak akan melakukan apa-apa. Sekalipun untuk sekedar memberi penjelasan agar semua menjadi lebih baik. Tapi satu hal yang harus kau tau, memoriku semakin pandai mencatat setiap hal-hal baru. Bahkan dialog-dialog koyol yang selalu mengatas namakan pertemanan. Dan jika kau ingin aku menjabarkannya satu demi satu, itu mudah saja. Kau hanya perlu memasang telinga.

Namun apa pernah terfikirkan, dua tahunku yang terasa berbeda? Dua tahun yang membuatmu tak lagi mengenal diriku. Dua tahun yang memberi jeda antara kita. Dua tahun yang membuatku selalu merasa bersalah. Dua tahun yang membuatmu lebih pasif. Bahkan untuk sekedar mempertanyakan kekecewaan yang bersarang hebat dalam pelipisku. Sampai akhirnya aku harus bangun, duduk, dan berlari dengan tanpa uluan tanganmu.

Jika kau membenciku yang lebih memilih menyimpan semuanya sendiri, itu pilihanku. Tidak lebih. Bukankah kau tidak akan menghargai segala bentuk kekecewaan. Meski yang dapat kau mengerti sekalipun. Masalah hidupmu juga tak kalah hebatnya dengan yang kumiliki. Bahkan tak jarang kau menatap berat atas segala yang kau alami. Tertawa seolah-olah kau pribadi yang tangguh. Lalu dimana letak empatiku? Jika aku memilih menyandarkan dua tahunku di atas pundakmu. Sedangkan kau masih bersandiwara dengan kebingunganmu.

Kali ini saja, tak perlu bersusah payah membuat situasiku membaik. Tak perlu membuang dua menit yang lalu dalam rekam memoriku. Karna itu sia-sia. Karna aku sudah lelah mencerna hal yang sama berulang kali. Karna aku tau pada akhirnya tak lebih dari sekedar kalimat rasa bersalah satu dua waktu kedepan saja. Biar saja aku hidup dalam waktuku sejenak. Menjauh dari segala hal yang tak pernah benar-benar aku fahami, termasuk dirimu. Berdialog dengan diri sendiri. Membiarkan setiap cerita menggenang dan mengalir dalam ketenangan. Aku lelah.

No comments:

Post a Comment