Sunday, 28 April 2013

Ayah

pict source: singleblackmale.org

Putri
Aku benci harus menaiki motor tua ini. Suara derunya bahkan menunjukkan umurnya yang hampir tutup usia. Ditambah lagi pria paruh baya yang terpaksa kupanggil ayah ini berusaha mempercepat lajunya. Seakan-akan tak ingin putrinya terlambat barang satu detik.

Ingin sekali aku memperlambat waktu. Kalau perlu mesin karatan ini rusak ditengah jalan dan tak lagi tertolong. Aku benci sekali harus meladeni semangat penjual cincau ini melihatku berseragam sekolah. Kalau bukan karna enambelas tahunkku sudah dibayar olehnya, aku mungkin sudah memilih hidup bebas. Tanpa harus menginjak gerbang sekolah.

Suara bising knalpot mendadak hilang. Ternyata limabelas menit berlalu lebih cepat dari yang aku harapkan. Bahkan belum sempat aku menggerutu, ayah sudah memarkirkan motornya tepat di depan gerbang. Di antara mobil-mobil mewah yang tak dapatkutebak siapa pemiliknya.

Ayah menyenggolku dengan bahunya, mengisyaratkanku untuk segera turun. Ah, dengan malas aku meladeni permintaannya lalu menatapnya yang sedari tadi terus tersenyum.

“Aaa.. ah aah iaah..,” kumis lebatnya hampir mengikuti gerak bibirnya. Tak satupun ucapannya yang dapat kucerna, kecuali tangannya yang bergerak-gerak mengisyaratkan sesuatu dan senyumnya yang tak kunjung habis. Dengan raut malas aku menatapnya, mencoba menggambarkan kejenuhanku.

Pulanglah, sebelum seisi sekolah mentertawakanku.
***
Aku menatap bayanganku dengan geram. Memaki situasiku yang bahkan tak pernah bersahabat. Dan untuk kesekiankalinya memekik pada cermin,”AKU BENCI HIDUPKU!!” Puas. Mungkin kali ini seluruh uratku benar-benar bekerja. Memuntahkan segala penat yang bersarah hebat dalam ubun-ubunku. Menumpahkan segalanya pada ruang yang tak terjamah banyak orang. Lalu membiarkanku meregang dalam renungan.

Seperti biasa, aku selalu menghabiskan setengah jam istirahatku dengan memojok di sudut kantin. Menatap kosong makan siangku dengan segala bentuk kebosanan. Membiarkan seisi kantin menertawakan kesendirianku. Toh aku sudah terbiasa seperti ini. Anggap saja seperti cemilan yang harus kusantap setap hari.

“Kasian ya, Bapaknya bisu anaknya juga nurun,” suara yang sudah sangat aku kenal menepuk punggungku. Dilanjutkan dengan tawa yang menggaung hingga ke dalam telingaku. Membuatku semakin muak merampungkan nasi gorengku. Dan belum sempat gadis itu menyelesaikan gurauannya, aku lebih dahulu meraba bahu. Mendapati kertas hvs putih menempel di seragamku, menyisakan bekas double tape yang sebenarnya bukan apa-apa bagiku.

Ayahku bisu dan tuli. Begitu kira-kira yang dapat kubaca.

Geram. Dalam-dalam aku menggigit bibir. Mencoba mencerna beberapa detik yang baru saja berlalu. Dan rekaman satu tahunku di sekolah ini seperti diputar kembali dengan cepat. Sangat cepat, bahkan lebih lebih cepat dari gerak emosiku. Satu tahunku yang bahkan hanya menyisakan kebencian. Bukan hanya pada setan-setan berseragam ini, tapi juga pada ayahku sendiri.

Gadis berkuncir kuda yang bahkan tak ingin kuingat namanya telah jauh memunggungiku. Meninggalkan kantin yang hampir suram mengimbangi rautku.

BRAAK!!! Sekuat tenaga otot -ototku menunjukkan kemarahanku. Meja dan kursiku bergetar hebat. Nasi goreng yang bahkan sedikitpun belum kesentuh, berhamburan bahkan hingga mengotori bajuku. Aku berlari mengejar bajingan kecil itu, membiarkan rambut riap-riapanku tersibak dan berantakan.

“ANJING!” mendorong bahunya hingga ia tersungkur bahkan belum cukup membayar olok-olokan yang harus kutelan setiap hari. Persis seperti yang kuduga, gadis manja itu merintih. Setetes darah mengalir dipelipis lengannya.

“Pecundang! Kau bahkan tak pantas merintih. Itu bukan apa-apa jika dibandingkan luka yang kau sisakan untukku.”
***
Pukul sebalas dini hari, aku pulang sangat larut. Menyusuri lorong perumahanku yang sangat sempit. Tanpa sedikitpun rasa bersalah, aku memasuki halaman rumah mungil yang hampir seluruhnya dari triplek. Mendapati ayah terjaga di depan pintu. Ia menunggu seseorang yang tak lain adalah aku.

Belum sempat aku melangkahi tubuh dempalnya yang duduk menghalagi pintu, ia tersentak mendengar langkahku. Walau belum sepenuhnya sadar dari lelap, ia sudah beranjak, memasang mata lebar-lebar. Menatapku penuh haru. Yang dinanti sudah tiba.

“Aaah! Aaa haaa aaahhh,” tanganya kali ini bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya. Tatapan haru itu tiba-tiba berubah menjadi kecemasan. Aku dapat merasakan semuanya. Setengah mati ia mempertanyakan keterlambatanku yang hampir berjam-jam lamanya. Memaksaku mempertanggungjawabkan semuanya dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

Aku tak meladeninya, apalagi memberi janji-janji yang baru saja ia minta padaku. Dengan geram, aku hanya mengacak-acak rambutku, lalu meninggalkannya yang masih terpaku ditempatnya. Menuju tempat tidurku yang bahkan tak layak disebut kamar. Membanting pintunya amat kasar sebagai protes atas ketidaksukaanku.

Tok tok. Daun pintuku bergetar. Secarik kertas kecil masuk melalui sela-sela pintu. Tanpa perlu repot-repot meraihnya aku dapat membacanya dengan sangat jelas. Tulisan besar-besar khas ayah.

Maafkan Ayah. Segera ganti seragammu. Ayah tunggu di meja makan.

Aku memilih mengindahkan permintaannya. Tanpa pernah berniat untuk mengganti seragam, aku duduk dikasurku yang hampir rapuh. Menatap jendela kamar yang mungkin hampir seminggu tak pernah kututup. Aku suka menatap langit di malam hari, membiarkan angin menyentuh tengkukku yang hampir merinding menahan dingin. Bintang yang dengan manis menghiasi malam, itu yang aku panggil dengan Tuhan.

Aku tak mengadu seperti biasanya. Aku lebih ingin mengutuk hari ini. Menuntut janji-janji kebahagiaan yang selalu aku dengar di setiap doaku pada Tuhan. Janji-janji yang bahkan satupun tak dapat kuraba, kecuali kesedihan yang selalu menutup hariku.

Tuhan, boleh aku lelah harus menunggu rahmatmu?
Menunggu waktu yang tepat untukku hingga akhirnya Kau memilihku untuk menerima nikmatmu.
Tuhan, boleh aku membencimu yang selalu menomer-sekiankan doaku?
Meletakkan permintaanku dalam daftar paling bawah.
Tuhan, boleh aku menyusul ibuku?
Menemaninya yang sudah bertahun-tahun menungguku dikeabadiaan.

Sebilah cutter yang tergeletak tak jauh dari tempatku terjaga mungkin bisa menjadi jawaban. Jawaban yang mampu mengakhiri semua kepenatanku. Membawaku pada akhir cerita yang lebih dari sekedar mengharukan, namun juga meneduhkan.

Tuhan, aku ingin pergi menuju ketenangan.
***
Entah sudah berapa lama aku terjaga, samar-samar aku mencoba meraba apa yang ada sekitarku. Langit-langit dan tembok yang hampir seluruhnya putih. Selang-selang yang mentransfer cairan merah melalui lenganku. Aroma pinisilin yang masih aku ingat saat pelajaran kesehatan. Tanganku yang terasa mati rasa terbalut kasa putih.

Apa mungkin ini ketenangan yang belum lama aku pinta kepada Tuhan?

Perlahan aku mulai dapat mencerna situasiku, menjawab kebingunganku beberapa saat lalu. Tuhan sepertinya belum mengijinkanku menemui ibu. Aku bahkan dapat merasakan nafasku yang beradu dengan udara ruangan yang sengaja dibuat dingin. Sangat jelas ini adalah bilik rumah sakit.

Walau belum sepenuhnya sadar, aku dapat merasakan betul suara detak yang entah datang dari mana. Suara mengendus yang sudah sangat aku hafal bertahun-tahun, nafas Ayah. Benar saja, ia terjaga tepat di sampingku. Dalam ranjang yang berbeda, aku dapat melihat rautnya yang sangat lelah seperti tak ingin bangun lagi. Selang-selang kecil menembus kulit lengannya yang mulai keriput.

Tanpa perlu penjelasan, tiba-tiba aku seperti begitu menyayanginya. Kebenciaan yang sudah mengerak bertahun-tahun lamanya sepertinya hilang hanya dengan melihat wajahnya. Berganti dengan rasa bersalah yang sepertinya sangat tidak layak untuk dimaafkan. Aku mengerti betul ia baru saja melewati masa-masa yang sulit. Setengah mati memperjuangkan hidupku. Memohon pada siapapun agar aku diberi kesempatan kedua. Kesempatan untuk sekedar lebih mencintainya

Ayah, aku sudah bangun.
Ayah
Aku menderu motor tuaku dalam-dalam. Mesin butut ini harus menurut denganku kali ini. Aku butuh kecepatan yang maksimal. Putri satu-satunya yang sangat aku cintai tidak boleh terlambat menuju sekolah. Ia harus selalu tepat waktu dalam menuntut ilmu. Karna ia harus selalu lebih baik dariku. Jangan lagi ada yang meneruskan usaha cincau kaki limaku,apalagi sampai anakku.

Walau sejak sarapan tadi ia terlihat sangat malas, aku sangat yakin ia punya semangat yang sama sepertiku pagi ini. Mengantarnya sampai gerbang sekolah selalu membuatku bahagia. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan daripada melihatnya melambai di pagi hari dan menunggunya di sore hari. Anakku pasti akan sangat membanggakan.

Aku selalu mengutuk Honda keluaran tahun 80’an yang aku dapat dari pasar rongsok ini. Mengapa motor ini harus menghabiskan limabelas menit hanya untuk satu setengah kilometer. Sedangkan motor-motor keluaran terbaru mungkin hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit. Benar menyebalkan.

Sebelum aku melepas putri memasuki pintu megah sekolah, aku selalu menatapnya penuh bahagia. Menyelipkan nasihat yang tak bosan kuulang setiap hari. Walau dalam diam, aku setengah mati mengisyaratkan rasa banggaku padanya. Dengan cara yang mungkin sulit ia mengerti.

Belajarlah yang rajin anakku. Ayah yakin kau pasti sukses.
***
BRAAKK!! Aku membanting centong perak yang sedari pagi aku gunakan untuk mengaduk adonan. Sekarang sudah hampir pukul duabelas siang, tapi aku belum juga berhasil menyelesaikan kue tart yang terlihat cantik di buku resep. Payah, ayah macam apa aku ini, hanya untuk membuat kue saja aku sampai harus cuti berjualan cincau satu hari.

Seketika aku mulai rindu dengan Ani, kembang desa yang aku nikahi duapuluh tahun yang lalu. Wanita hebat yang setengah mati berjuang menghadirkan Putri untuk menjadi teman hidupku sampai hari ini. Hingga akhirnya ia harus gugur dalam peperangannya sendiri. Bahkan sebelum gadis kecilku sempat melihat wajahnya.

Andai saja ia masih menemaniku saat ini, mengisi rumah kami yang hampir sepi selama bertahun-tahun belakangan ini. Setidaknya untuk saat ini, ia dapat membantuku menyiapkan kue tart lezat untuk anakku yang hari ini sudah menginjak tujuhbelas tahun. Memberi hadiah terindah sebelum akhirnya aku harus berhenti memanggil putriku gadis kecil.

Sudahlah, sepertinya aku memang harus memesan kue tart di toko kue di simpang jalan.
***
Langit sudah sangat gelap. Aku melirik jam dinding rumahku dari teras. Hampir pukul sepuluh, namun putri tak kunjung datang. Bagaimana mungkin di hari ulang tahunnya ini ia pulang sangat larut. Sedang apa ia di luar sana? Apa mungkin teman-temannya sedang memberikannya kejutan seperti yang sering kulihat di acara TV. Entahlah, aku tak begitu faham tingkah anak muda jaman sekarang.

Waktu berlalu, sudah hampir setengah jam aku menunggunya. Rasa penasaranku kini berubah menjadi kecemasan yang luar biasa. Ayah macam apa aku, membiarkan anakku di luar sana dan tidak tau bagaimana kondisinya. Tapi apa yang dapat aku perbuat selain menunggunya. Ah, andai saja aku hidup berkecukupan, ingin aku membelikannya telepon genggam. Setidaknya aku bisa memastikan posisinya.

Maafkan ayah ya..

Semakin lama seperti aku mulai kehabisan daya menunggu putriku pulang. Sesekali aku terlelap sejenak lalu terbangun beberapa saat. Satu hariku yang cukup berat sepertinya sudah memanggilku untuk beristirahat. Ternyata hanya untuk membuat kue tart saja aku harus merasakan lelah yang lebih parah daripada menjual berpuluh-puluh gelas cincau sehari. Payah.

Suara langkah yang beradu dengan tanah yang basah membuatku tersadar dari tidurku yang bahkan kurang dari satu menit. Puji Tuhan, putriku kini sudah berdiri dihadapanku. Rautnya terlihat sangat lelah. Jelas saja ini sudah pukul sebelas malam. Aku yang gelagapan segera bangun dari dudukku dan menyambutnya. Mempertanyakan keterlambatanya dengan nada yang sedikit meninggi. Aku panik setengah mati.

Ia yang sepertnya kesal mengacak-acak rambutnya, memekik tetap dihadapannku, lalu meninggalkankku yang masih termangu. Masuk membanting pintu kamarnya. Apa putriku marah dengan caraku menyambut kedatangannya. Ya Tuhan, ini hari ulang tahunnya. Bagaimana bisa aku membentaknya?

Dengan penuh rasa bersalah, aku mengetuk pintu kamarnya. Berharap ia akan membukakan pintu dan memberikanku pelukan sebagai tanda memaafkan. Tapi sia-sia, ia tidak menjawab apapun dari dalam. Mungkin ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Lebih baik aku menunggunya di ruang makan dengan kue tart yang sepertinya sudah semakin lembek menunggu berjam-jam.

Maafkan Ayah. Segera ganti seragammu. Ayah tunggu di meja makan. Semoga pesan yang kuselipkan di sela-sela pintu kamarnya dapat memperbaiki situasi.

Kue tart ini benar-benar cantik, aku bahkan menghabiskan hampir satu jam hanya untuk memilih yang terbaik. Aku yakin betul putriku sangat menyukainya. Belum lagi ia sudah sangat lama tidak menyantap kue yang lezat.

Tuhan, aku sangat berharap malam ini berjalan sempurna. Bahkan sebelum pertengkaranku dengan putriku. Tulisan “selamat ulang tahun putri cantikku” yang sengaja aku pesan oleh si pembuat kue ini lebih dari sekedar istimewa. Aku ingin sekali melihat senyum gelinya saat melihat kue yang kuhadiahkan untuknya. Senyum yang sudah bertahun-tahun tak pernah kulihat.

Putriku, maafkan segala kekurangan ayah.
Maaf jika akhirnya kau harus menanggung malu atas segalanya
Tak perlu membenci Tuhan, karna ini memang yang terbaik untuk ayah.
Bahkan Tuhan sudah menghadirkan anugrah yang tidak ternilai indahnya.
Saat kau lahir ke dunia ini, ayah bahkan sudah melupakan kekecewaan kepada Tuhan.
Ternyata ia menghadiahkanku seorang gadis kecil atas segala ketabahanku.
Gadis kecil itu adalah kau.

Limabelas menit berlalu, namun putriku tidak juga menemuiku. Apakah hanya untuk bersalin saja butuh waktu sebegitu lamanya. Atau mungkin pesan kecil yang kuselipkan tak terbaca olehnya. Atau mungkin ia  lebih memilih untuk terlelap dan enggan bertemu danganku.

Tok tok. Untuk keduakalinya aku mengetuk pintu kamar putriku. Tak ada jawaban. Aku kembali mengetuknya lebih keras berkali-kali, namun tetap tak ada jawaban. Aku benar-benar cemas dan akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu yang hampir rapuh itu.

BRAAK!! Kamar petak dua kali dua itu terlihat sangat sepi. Aku bahkan tidak mendapati putriku sedang terlelap di ranjangnya. Dengan awas, mencoba berfikir hingga akhirnya aku mendapati darah segar mengalir dari balik kasur. Aku dapat denga jelas melihat lengannya yang terus mengucurkan darah dengan deras.

Ya Tuhan dia mencoba mengakhiri hidupnya.
***
Ada sekitar dua orang perawat dan satu orang dokter, membantuku menggiring putriku yang sepertinya sudah hampir kehabisan darah. Mereka sama paniknya denganku, tapi sepertinya ketakutanku jauh lebih hebat. Sekuat tenaga aku mencoba mengontrol diriku hingga akhirnya para ahli medis itu membawa putri menuju ruang besar bertuliskan ICU. Ruang yang sama saat istriku melewati masa kritisnya, hingga akhinya meninggalkanku terlebih dahulu.

Tuhan, aku tidak ingin mengalami kehilangan yang sama untuk keduakalinya.
Putriku bahkan lebih berharga daripada apapun.
Aku bahkan lebih mencintainya daripada mencintai diriku sendiri.
Aku bahkan rela mengorbankan apapun demi nafasnya.
Sekalipun itu nyawaku.
Tuhan, jangan pernah lelah memberinya kesempatan. Ia masih terlalu muda untuk meninggalkan dunia ini.

Setelah hampir satujam berlalu, dokter laki-laki dan seorang perawat yang mengawal putriku sejak tadi menemuiku. Wajahnya kini bahkan lebih panik dari dari sebelumnya. “Haaa aaa ahhh aaaa!” belum sempat ia mengawali penbicaraan, aku sudah memotong. Entah ia paham atau tidak, setengah mati aku mengisyaratkan ketakutanku.

Kau boleh ambil semua yang kumiliki, rumah, uang, tapi tidak putriku. Putriku harus selamat, Dok.

Dokter muda itu tidak menjawab. Entah karna dia tak mengerti bahasaku atau bagaimana. Ia hanya menatapku yang sedari tadi menangis panik dengan iba. Aku menggerang, berkali-kali kugoncang tubuhnya, namun ia tetap tak memberikan jawaban. Hingga akhirnya perawat yang berada disampingku mencoba menengkanku yang semakin menjadi.

“Kami akan upayakan yang terbaik. Saat ini putri anda membutuhkan darah”

Ambil saja darahku. Ambil sebanyak apapun kalau perlu sampai putriku sadar. Masih sambil menangis, aku menjulurkan kedua tanganku tanpa fikir panjang.  Menggerang berkali-kali, hingga akhirnya dokter itu mengangguk ragu.

Dan darah itupun mengalir melalu pipa-pipa kecil. Membawa rasa cintaku ke dalam tubuh putri kecilku. Menjadikannya obat yang tak ternilai harganya. Menyampaikan rasa cinta yang teramat besar. Kau harus berjuang anakku. Ayah mencintaimu.

No comments:

Post a Comment