Saturday, 24 August 2013

sepasang sepatu dan kisah haru

pict source: http://brianosfer.blogspot.com/

Walau hanya sepasang alas kaki berkait tali, sepatu selalu punya sisi yang memiliki jalan cerita. Bagaimana tadinya ia hanya sebuah sol, melewati arus lalu lintas pabrik yang ramai, hingga dapat kita kenakan hari ini. Sebenarnya, bukan sejarah tentang sepatu yang ingin saya bahas hari ini. Tapi tentang bagaimana, benda sederhana ini mampu memberikan makna bagi setiap yang mengenakannya.

Hari ini, saya baru saja menyelesaikan satu roll film, yang entah berasal dari bagian dunia yang mana. Yang dapat saya terka, hanya wajah pemerannya yang begitu kental dengan aroma timur tengah. "Children of Heaven", film berdurasi sekitar satu jam ini mengambil sepatu sebagai angel cerita. Mengambarkan kakak beradik, Ali dan Zahra, yang harus bergantian sepasang sepatu yang sama untuk pergi ke sekolah setiap harinya. Sang kakak rela harus menghadapi teguran keras dari penjaga sekolah karna terlambat demi menebus kesalahannya terhadap adiknya. Sepatu Zahra yang baru saja ia ambil dari tukang sol, hilang karna kecerobohannya.

Dan sayangnya lagi himpitan ekonomi tidak membuat Ali mampu mengganti sepatu pink lusush itu dengan yang baru. Untuk membicarakan hal ini dengan orang tuanya pun ia tak punya nyali. Hingga akhirnya Ali membulatkan diri untuk mengikuti lomba marathon yang menawarkan sepasang sepatu kets sebagai hadiah juara ketiga. Berkat kesehariannya yang selalu mengejar jam masuk sekolah, bertukar sepatu, dan tekatnya untuk menghadiahkan adiknya sepatu baru, ia berlari dengan seluruh raganya.

Bagi penikmat film, acara ini tentu sudah tidak lagi asing. Bahkan televisi lokal Indonesia pun sudah puluhan kali menyiarkannya. Terutama saat menjelang hari lebaran. Sekilas, cerita ini cukup menguras air mata. Termasuk saya, yang sekali pun sudah mengulang tontonan ini berkali-kali, tetep merasakan haru yang sama.

Saya sendiri bingung, dari mana datangnya rasa iba itu. Mungkin karna saya sendiri (Alhamdulillah) tidak diberi Tuhan situasi yang sama seperti dalam kisah Ali dan Zahra. Mungkin juga teman-teman yang menikmati acara ini bahkan memiliki rak sepatu dua pintu dengan puluhan pasang brand ternama di dalamnya. Banyak yang harus kita syukuri memang, karna sampai hari ini kita bahkan masih dapat menyelaraskan sepasang alas kaki dengan setelan yang kita gunakan. Tidak seperti Ali yang bahkan tidak dapat menamai sepatunya untuk dirinya sendiri.

Tanpa bermaksud mengguri, saya sendiri sedang dalam proses untuk memaknai bagaimana bersyukur. Karna sampai hari ini, saya masih terlalu sering mengeluhkan apa yang sudah menjadi bagian saya. Seperti selalu "ingin lebih" dan menuntut banyak hal. Hingga saya pun semakin sulit menemukan titik kepuasan. Karna rasa selalu ingin lebih baik masih menguasai nafsu. Ya, semoga saja kisah perjuangan kakak beradik ini bisa memberi ketukan bagi hati saya yang hampir membatu. Amin..

No comments:

Post a Comment