Monday, 22 July 2013

hari ke 'tiga ratus enam puluh'

pict source: http://wvs.topleftpixel.com/07/03/04/

Di hari ke tiga ratus enam puluh yang sama, ia masih duduk di balik pintu penantiannya. Melamunkan angannya akan musim rindu yang tinggal sepekan. Merajur tawa yang hampir ribuan hari tak sempat berkunjung. Memantapkan diri bahwa masa ini tak akan berjalan mubazir.

Di hari ke tiga ratus enam puluh yang sama, ia mengayunkan bangku bayanya. Mengusir setiap uban dengan jemari laurnya. Berpasrah agar lanjutnya datang tepat setelah semua rasa terhimpun. Menerangi ruang huninya yang semakin remang.

Di hari ke tiga ratus enam puluh yang sama, ia mengguguhkan tongkatnya seirama dengan gelisah batinnya. Menghapus jenuh di antara dialog opera satria jawa. Meresapi setiap baitnya untuk senggumpal ketegaran raga.

Di hari ke tiga ratus enam puluh yang sama, ia membilang setiap deru mesin yang melintas. Menomerinya dengan digit probabilitas tak berteori. Menakarnya dalam hening logika lahiriah.

Di hari ke tiga ratus enampuluh yang sama, ia masih tak punya sebuah alasan. Untuk sebuah penantian yang ditalukannya setiap musim gulana tiba. Karna rindu tak pernah memiliki sebab.

"Kembalilah mentari, letihku hampir sampai di ujung batas."

No comments:

Post a Comment