Wednesday, 15 May 2013

Dua Senyawa


Tuhan hanya menyisakan kita sepenggal kata yang beriringan
Entah dengan doa yang dihantarkan atas rasa yang berbeda
Atau cerita yang diakhiri dengan lafas yang tak sama
Aku masih dapat mengejanya dengan sangat fasih
Mereka-ku yang menyematkanya persis di antara dua cahaya
Mereka-mu yang menjadikannya prolog dalam bagian dirimu

Mungkin karna hanya sebatas penggalan kata,
tak ada lagi ruang bagi kita untuk sekedar melebur
Karna hampir seluruh langkahku bertuan lama
Jadilah kita senyawa yang tak pernah bisa dimengerti
Jika kau ke utara, maka aku akan memijak selatan
Begitu mungkin sebaliknya

Aku lebih sering memilih lunak sepihak,
saat kau mulai mencekat semua yang menghalang
Mungkin aku yang juga membuatmu serasa berjalan di tempat
Karna kau lebih sering mengabaikan keibaanku
Menuju apa yang selalu kau yakini, kau ingini
Menutup rapat-rapat setiap rongga dalam tubuhmu
Ya, bisikanku mungkin hampir seperti racun

Hey, kau yang selalu dipanggil amarah
Harus bagaimana aku mengimbangi langkahmu
Bukan untuk menjadi refleksi bayanganmu
Namun tak lebih dari menopang jatuhmu
Entah di langkah berapa jauhnya,
aku dapat melihat sesuatu memerosokkanmu
jauh...

No comments:

Post a Comment