Tuesday, 21 May 2013

Dialog Hujan

pict source: tumblr.com

"Hujan seperti mengurung saja. Walau tidak dalam ruang yang nampak, tapi butiran air itu seperti pagar, membuat kita tertahan. Entah untuk alasan apa."

"..."

"Lalu apa yang akan kau lakukan saat hujan?"

"Menunggu"

"Konyol, apa yang kau tunggu di tengah keterbatasan seperti ini. Bahkan untuk menggerakan tubuh selangkah pun sulit."

"Setidaknya masih ada pelangi yang sedang dalam perjanannya untuk menemuiku."

"Apa yang bisa kau lakukan dengan pelangi? Menikmatinya dan tetap mematung di tempat yang sama?"

"Tidak juga."

"Percayalah, pelangi hanya akan membuatmu mematung hingga akhirnya hujan yang lebih besar datang lagi. Dan kau tidak bergerak sedikitpun."

"Itu kan menurutmu. Karna kau tidak suka memaknai keindahan. Jika hujan menyisakan pelangi bagimu. Maka hujan mengajarkanmu tentang ketulusan."

"Ketulusan macam apa?"

"Ketulusan karna dengan sabar menanti hujan numpang lewat, melewati sesuatu yang selalu kau persepsikan dengan kesukaran."

"Jadi kau lebih senang seperti ini. Diam dan melamuni hujan yang bahkan tak mengisahkan apapun?"

"Aku tidak diam. Setidaknya hujan memberikan kita waktu untuk sekedar berbincang. Mengikat kita pada momen yang sama. Walau dengan latar hujan yang paling kau hindari."

"..."

"Nikmati saja, karna hujan tak rutin berkunjung. Mungkin kau mau aku sedukan secangkir coklat panas. Karna aku baru saja memohon untuk hujan yang panjang."

"..."

pict source: flickr.com

No comments:

Post a Comment