Sunday, 3 March 2013

Penanaman “Konsumerisme” yang Semakin Tinggi

Jika hanya sekedar membaca topic bahasan untuk pertemuan kali ini, kita tentu akan menilai kegiatan jual beli dalam bisnis adalah sesuatu hal yang sederhana. Sebatas bagaimana cara yang baik dalam menjajakan produk dan bagaimana konsumen dapat tersenyum. Namun sayangnya kondisi bisnis dunia saat ini cukup memprihatinkan. Banyak perusahaan yang mulai menggunakan strategi pemasaran yang bahkan tak mudah terbaca oleh masyarakat biasa. “Mendidik masyarakat untuk menjadi manusia-manusia konsumtif”. 

Sekilas memang tidak tidak ada yang salah dengan menjadi individu yang ketergantungan akan barang-barang, namun jika jumlahnya yang sudah tinggi saya tidak yakin itu masih dapat dikatakan benar. Bayangkan, betapa bodohnya masyarakat dunia dicekoki dengan brand-brand yang menjajikan “eksistensi” dan popularitas. Hingga akhirnya masyarakat mulai sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Itulah celah yang diserang oleh para raksasa-raksasa bisnis dunia.

Lebih sedihnya lagi, banyak berbagai bentuk strategi penjualan yang mulai menggunakan anak-anak sebagai objek pemasaran. Bermain dan belajar bukan lagi sepenuhnya dunia anak-anak saat ini. Kegilaan akan produk “bling-bling” sudah mulai menjadi mainan baru bagi generasi kecil kita. Secara singkat kita bisa menilai ini sebagai “pendidikan konsumtif sejak dini”. Miris bukan?

Lalu masih cukup kah kita memandang kondisi pemasaran saat ini sebagai sesuatu yang “lumrah” dalam dunia bisnis? Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dalam menjaga moral masyarakat saat ini? Tidak ada yang mampu menjawab saya pikir. Jawaban yang sangat klasik mungkin akan menempatkan masyarakat sebagai konsumen yang bodoh dan para pedagang-pedagang internasional itu akan selalu benar, “Ini pemasaran, bung!”

Dalam essay saya kali ini, bukan berarti saya menyudutkan pemasaran sebagai bagian dari perusak moral dunia. Namun, fenomena pemasaran yang ada saat ini sudah mulai mengecewakan bagi saya. Seharusnya, sebagai bagian dari bisnis, perusahaan-perusahaan harus bertanggung jawab dalam menjaga moral masyarakat. Tidak hanya sekedar CSR yang muncul sebagai bentuk “membangun popularitas” semata. Namun juga kesadaran akan pentingnya membentuk konsumen menjadi individu yang cerdas.

*tulisan ini merupakan tugas refleksi batin yang saya buat untuk memenuhi tugas Etika Bisnis

No comments:

Post a Comment