Friday, 14 December 2012

Dialog Tanpa Suara

pict source: beirutnightlife.com

Aku kembali menatap lekat wajah itu. Sempurna, tak sesayu parasku. Dia memang tak banyak berbicara, bisu malah. Namun caranya menerawang ke dalam mataku hampir sama seperti sebuah dialog. Sungguh gila, hampir setengah menit aku dibuat bingung dalam situasi ini. Detik-detik berlalu tanpa ada yang mencoba angkat bicara. Entah karna sebuah alasan, aku lebih memilih menikmatinya.

"Hai," akhirnya aku mulai bosan terperangkap dalam diam. Dia masih bisu, hanya menirukan gaya berkenalanku yang kaku. Melambai, seakan itu bisa menjadi penawar suasana hambar beberapa saat yang lalu. Aku tak sebal, karna kita memang baru berjumpa belakangan ini. Yang memang menjadi kebiasaanku, menemuinya di saat luangku. Saat rutinitas mulai menjauh perlahan di akhir hariku.

Meskipun hanya dalam dua-tiga kali perjumpaan, aku sudah mampu merekam kebiasaannya. Wajahnya yang selalu tenang menatap air mukaku yang lelah. Matanya yang selalu menembus ke dalam bola hitamku, seperti mencoba menerka duabelas jamku yang berjalan membosankan. Bibirnya yang selalu bergumam, walau tak satu kata pun aku fahami. Tubuhnya yang tak pernah bosan menirukan tingkahku, mencoba mengajakku bercanda. Melepas penat sejenak.

"Dinamika yang tak pernah berubah. Rotasi yang sederhana. Semua terasa datar," kali ini aku hanya tersenyum getir, tanpa lambaian tentunya. Menunduk, enggan menatap wajahnya, karna dia hanya akan memberikanku senyum yang sama. "Atau mungkin aku yang membuat semua terlihat biasa-biasa saja?"

Hening.

Aku tak melanjutkan ceritaku, tapi kembali menatapnya. Meruncingkan mata, memasang raut geram, berharap dapat memancing ketakutannya. Dia selalu seperti ini sejak pertemuan pertama kami. Penuh tingkah namun tak sekalipun mencoba berpendapat. Entahlah, mungkin dia orang yang kaku. Sama sepertiku saat berada ditengah-tengah kaum intelektual. Seperti dibuat ciut oleh keterbatasan diri.

Sahabat baru, itu satu-satunya harapan saat pertama kali berada dalam ruang yang sama dengannya. Ia tidak begitu simetris, seperti manusia-manusia bising yang kujumpai di setiap hariku. Ia lebih banyak bertingkah daripada harus mengomentari setiap ujung pribadiku. Menarik memang, tapi kali ini aku butuh pandangan darinya. Bukan sekedar mendengar pidatoku tempo hari. Aku tak datang ketempat ini untuk sekedar mencari pendengar.

"Bicaralah keparat!"

Masih tanpa suara, ia mencoba memakiku dengan cara yang sama. Ia memang selalu memasang raut sebal, setiap kali gaya bicaraku mulai kasar. Ia orang yang lembut dan aku dapat melihat itu dari sorot matanya. Tapi rasanya aku sudah bosan bersahabat dengan kelembutannya. Aku pribadi yang tegas dan tak pernah berniat untuk membuang waktu untuk pertengkaran kecil ini.

"Sudahlah!" aku menjauh beberapa langkah hingga wajahnya tenggelam dalam pandanganku. Aku rasa kita butuh sedikit jarak untuk menilai pribadi masing-masing. Semakin lama menatap amarah masing-masing, kita hanya hanya akan saling menyalahkan pada akhirnya. Dan pertemuan beberapa waktu yang lalu hancur hanya dengan sebuah dialog perdebatan.

Bukan itu yang aku harapkan. Sembari berfikir, aku terpaku di sudut ruang balok ini. Menyalahkan kejadian beberapa saat lalu yang masih terekam kuat dalam otakku. Aku membenamkan kepalaku dalam-dalam, mencoba menurunkan amarah yang bersarang di dalamnya. Aku harus mendinginkannya satu dua waktu.

***

Seperti beberapa pertemuan yang lalu. Ia sepertinya tertarik memperhatikan pribadiku. Aku yang bingung, akhirnya hanya membalasnya dengan raut yang sama. Entahlah, ia merasakannya atau tidak, aku hanya mencoba mengerti apa yang sedang dirasakannya. Lelah, bahagia, sedih, air mukanya terlalu rumit. Sedalam mungkin aku mencoba menerawang ke dalam bola matanya, namun tak kutemukan jawaban.

"Hai," lambaian klasik tempo hari, kaku. Rautnya sepertinya terlihat kikuk, padahal ini bukan pertama kalinya ia menjumpaiku. Akupun bingung bagaimana harus menanggapi caranya beramah-tamah, dan akhirnya kembali dengan gaya lamaku. Menjadi bayangan dalam setiap detik yang berlalu.

Walau tak pernah ia coba sadari, aku selalu berdiri di tempat yang sama. Menunggunya menceritakan setengah harinya yang baru saja berlalu. Terkadang aku cemburu, Tuhan tak menganugrahiku suara yang sama sepertinya. Jadi aku tak dapat memanggil namanya jika ia sulit menemukanku. Aku pun hanya dapat menirukan berbagai emosinya, tanpa berkomentar sedikitpun.

"Dinamika yang tak pernah berubah. Rotasi yang sederhana. Semua terasa datar," sorot matanya berubah seketika. Tanpa harus berfikir jauh, aku dapat melihat kekecewaan dalam wajahnya. Walau tak ia sampaikan dengan tegas, namun aku sudah hafal betul tabiatnya. Mengeluhkan hal yang sama disetiap akhir harinya dan untuk kesekian kalinya menyalahkan dirinya sendiri. "Atau mungkin aku yang membuat semua terlihat biasa-biasa saja?"

Selain karna keterbatasanku, aku sedikit lebih mulai jenuh mencerna gelagatnya yang serupa sejak pertama bertemu. Tak ada yang perlu aku komentari sepertinya. Mungkin bisuku dapat memberinya suasana untuk merenung. Sekedar merenungi pertanyaan yang tak pernah ia jawab. Itu saja.

Hanya dalam kejapan mata, aku seperti tak mengenalinya lagi. Mimiknya berubah seketika, matanya menatap geram, wajahnya memerah. Bentuk emosi seperti apa itu? Aku belum pernah melihnya sebelumnya. Aku dapat merasakan dengan jelas seluruh giginya bergemeretak, seperti ingin memuntahkan sesuatu. Entah apa.

"Bicaralah keparat!" ia semakin menjadi. Kali ini aku dapat mengerti garis wajah itu, ia marah kepadaku. Benar-benar marah. Tuhan, aku tak begitu faham melayani kekesalannya selain memasang raut yang sama, berharap ia faham ketidaknyamananku. Lebih baik aku mendengar kekecewaannya pada dunia, daripada harus melihatnya menatapku nanar.

Sayangnya, sepertinya caraku berdialog belum dapat ia fahami. "Sudahlah!" hingga akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan aku termangu. Ia sudah beberapa langkah menjauh dariku. Tanpa melihatnya, sama saja dengan tidak berguna. Aku hanya dapat terpaku, mencoba memutar ulang beberapa detik yang sudah berlalu. Apa sesuatu berjalan dengan salah? Apakah ia lelah dengan dialog tanpa suara ini?

Entahlah.

Hanya saja, aku takut tak lagi dapat melihatnya disetiap senja datang. Aku takut harus menunggu dan tak tau kapan waktu mempertemukan kami. Karna ruang ini semu, siapapun dapat datang dan pergi, dapat juga pergi dan tak kembali. Karna aku juga candu akan dirinya, rupa nyataku.

No comments:

Post a Comment