Sunday, 11 November 2012

Ruang Semu

Pikiranku, mungkin juga batinku, berjalan mundur ribuan langkah menuju ruang waktu yang tak pernah pasti. Aku bukan takut akan masa depan, namun rasanya ada sepenggal cerita yang belum ku selesaikan dalam ruang waktu ku. Aku harus kembali.

Namun sayang perjalanan mundurku hanya sebatas nostalgia. Tidak lebih. Hanya memandang di balik ruang semu. Persis seperti melihat adegan di layar bioskop. Aku tak lagi dapat menyentuhnya.

Lalu harus bagaimana aku menata ulang potongan cerita itu. Haruskah aku mengemis pada waktu?

Aku lelah berada di ruang ini. Semua terasa semu. Hanya sandiwara masa laluku yang dapat aku nikmati. Jelas di antara dinding-dinding beton.

Sangat ini rasanya aku masuk. Menembus beton-beton berlapis baja itu. Aku hanya ingin menjadi bagian. Lalu menata kembali setiap plot yang ada dengan apik. Untuk sekedar akhir cerita yang kurencanakan.

Terdengar egois memang. Memang. Tapi aku sudah termakan doktrin dongeng masa kecil. "Bahagia itu PASTI". Dan akupun terlalu takut untuk kecewa, atau bahkan menangis. Aku lebih senang tersenyum, walau tak pernah benar-benar memahami apa itu senyuman.



No comments:

Post a Comment