Thursday, 16 December 2010

Thanks GOD, you save my money! :)

Saya lupa tepatnya hari apa dan tanggal berapa. Seinget saya sih hari Senin tanggal 13 Desember 2010. (nah, ini tau.. haha) Saya (terpaksa) harus bangun pagi karna harus memperbanyak *Indimolor untuk disebarkan di kampus. Setelah selesai dari tempat percetakan saya bermaksud pulang untuk mandi pagi di kost. Dalam perjalanan pulang saya mengalami insiden mengenangkan. Ya mengenangkan, karna masih terkenang di otak saya sampai hari ini.

rentetan cerita detail:
Saya yang jujur masih amat sangat mengantuk, menyetir dengan "sembrononya". Tidak lihat kanan kiri, asik meluncur seperti kereta api. Hahaha :D Pada akhirnya "kesembronoan" saya ini di tegur oleh Allah. Saya berbenturan dengan motor lain. Asik, seperti dicum metro mini. haha :D
Hal pertama yang saya lakukan saat terjatuh adalah bengong. Banyak hal yang ada di pikiran saya. Saya mencoba menerawang kebeberapa menit kedepan. Dalam bayangan saya menyeramkan. Bapak-bapak si pemilik motor menuntut ganti rugi kepada saya. 2 miliar!! OMG.. T.T Apa yang harus saya lakukan. Saya menolak kalo harus menghubung orang tua dan mengemis duit. Aduh, ga dewasa sekali.
Akhirnya saya cuma bisa pasang tampang kesakitan, syok, dan segala macamnya yang aslinya cuma bagian dari akting saya. Saya tau bagian badan saya ada yang luka, tapi itu ga seberapa sakit daripada harus merogoh kocek untuk uang ganti rugi. Hikkkss...
Untungnya warga sekitar situ baik budinya, mereka menggiring saya dan si bapak bermotor ke sebuah ruko. Disana kami diberi minum supaya tengan. Masih dengan sejuta akting, saya menghabiskan minuman, pura-pura gemetaran biar si bapak bermotor merasa iba. Aduh parah deh, saya cuma ngebayangin masalah duit sampai-sampai ga punya nyali buat ngelihat muka si bapak bermotor. Beginilah "bayangan" saya:

Si Bapak Bermotor (SBB) : *pasang tampang sangar ala centeng pasar* Ayooo!! kamu harus ganti rugi, lihat ban saya sudah tidak bundar lagi!
Saya : *muka orang melarat* Ampun Paaakk.. Saya masih mahasiswa ini. Aduh ga punya uang banyak.. Saya cicil bayarnya boleh Pak? Plisss T.T
SBB : Cicil! Cicil! Kamu kira panci dicicil. Pokoknya saya ga mau tau! Motor saya harus benar, apapun alasannya.
Saya : *air mata mengalir dengan derasnya*

Ingat ya dialog di atas masih "bayangan" dalam otak saya. Karna takut, saya akhirnya menyempatkan diri meng sms teman saya, Sani. Dia pemilik motor yang saya tunggangi. Agak merasa bersalah juga sama dia. Haduh sayap sampingnya pecah. Tapi motor si bapak bermotor lebih parah. Bannya saja sudah tidak bundar. (gak lebay ini sungguhan)
Beberapa saat setelah itu, teman saya datang dengan paniknya. Mungkin dia mengira saya dalam kondisi parah. Dia yang semakin panik menyarankan saya untuk beristirahat di kostnya yang tidak jauh dari TKP. Akhirnya masih dengan tampang memelas saya mohon pamit. Lebih parah lagi, saya pasang tampang mau nangis waktu pamitan sama bapak bermotor. And fortunately, si bapak bermotor tidak menangih serupiah pun kepada saya. Dia hanya tersenyum pilu, saat bersalaman dengan saya. Ini dialognya:

Saya : *akting nangis* Huaaaa.. Bapak maaafff. Hiks Srot srottt...
SBB : *tersenyum pilu* Sudah tidak apa-apa. Yang penting mbak baik-baik saja.
Saya : *hati riang gembira, melayang di udara* Iya pak. Hiks Hiks..

Alamak, beruntungnya saya. Dengan hati riang gembira, saya menuju kost teman saya. Cihuyyy...Setidaknya saya hanya perlu mengganti sayap motor teman saya.. Hikss thanks God, you save my money. Beberapa saat setelah saya merebah santai, rasa sakit dari luka-luka itu terasa. Pedih perih.. Aduhhh... Gimana ini...
Yang lebih mengejutkan lagi teman saya Aka datang karna mendengar saya kecelakaan. Yaampun, padahal ga parah-parah banget. Ya saya maklumi, namanya juga fans yang khawatir sama idolanya. Hahahaha :D

*indimolor : buletin Indikator, Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya

No comments:

Post a Comment