Friday, 14 December 2012

Kontras (part 1)

kontras /kon·tras/ a 1 memperlihatkan perbedaan yg nyata apabila diperbandingkan: perbuatannya -- dng kata-katanya; 2memperlihatkan perbedaan nyata (dl hal warna, rupa, ukuran, dsb);

-- fonemis Ling perbedaan antara bunyi-bunyi yg cukup untuk memungkinkannya membedakan kata, msl /b/ dan /p/ dl bahasa Indonesia memperlihatkan kontras sehingga bahasawan dapat membedakan 'bak' dan 'pak'
-- minimal Ling kontras terkecil yg dimungkinkan oleh struktur fonemis suatu bahasa, msl mu dan bu;


"Terkadang, berjalan dalam satu arah yang sama tak cukup membuat kita berfikir dalam satu garis lurus. Kita memang berdampingan, terkadang bergenggaman, saling menguatkan satu sama lain. Mungkin juga kita membawa tiket dengan tujuan yang sama. Menuju mimpi yang sama."

Aku tak menghitung sudah berapa kilo meter aku berjalan. Dengan kaki telanjang, aku mencoba berjalan seirama dengan langkahnya. Walau tampak sederhana, docmart coklat yang ia kenakan semakin membuatku ciut. Debu-debu di sepanjang jalan membuat kakiku telanjangku terlihat kumal, kadang juga gatal-gatal. Tak sepadan dengan gayanya. .

Tanpa satu patah pertanyaan, ia hanya menatapku geli. Gelagatku memang aneh sejauh ini, terutama saat terik panas mulai membakar tanah yang ku pijak. Bayangkan saja, satu helai benangpun tak membungkus kakiku. Ahh! Aku mulai risih. Ini bukan sandiwara, aku memang sengaja meninggalkan alas kakiku di hulu yang sudah jauh di belakang. Entahlah, aku hanya ingin mengajarkan pada tubuhku bagaimana menikmati lukisan Tuhan. Tidak hanya sekedar memandanginya, tapi seluruh tubuhku harus mampu menyentuhnya.

"Kau dekil. Perempuan pula," masih dengan wajah mencemooh, pria yang kutemui di ratusan meter pertama mencelaku. Tanpa perlu mencerna ucapannya, aku membalasnya dengan raut kecut. Sangat kecut sampai sampai ia menunjukkan ekspresi bersalah. Aku emang malas memperdebatkan diriku sendiri dengan orang yang bahkan namanya belum sama sekali aku ketahui. Itu sama saja dengan menjatuhkan diriku di depan mukanya.

"Jangan mengharapkan ucapan maaf dariku. Aku tidak sedang mencelamu....."

"Aku tidak bodoh! Kau pikir rautmu barusan belum cukup menghinaku?!" belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya aku segera memotong. Aku sudah hafal betul gaya bicara seperti itu. Sebuah pembenaran klasik. Sangat klasik dan tanpa mengurangi rasa hormatu, aku memang benci sekali berdebat. Terutama yang bertemakan aktualisasi diri. Bagiku itu sama saja menghabiskan waktu dengan tontonan tak berkualitas. Dan pada akhirnya hanya akan menjadi pendengar semu. Payah!

Dalam sekejap, perdebatan kami berakhir. Ia tidak mendebat kembali. Kalimat terakhirku sepertinya cukup membuatnya bungkam. Ini lebih baik, setidaknya aku bisa menikmati perjalananku tanpa terdistosi apapun, Termasuk pria tinggi yang membuatku tenggelam berdampingan dengannya. Siap lagi kalau bukan pria ber-docmart itu.

Walau tak benar-benar memahami perjalananku yang hampir seperempat abad ini, tak sekalipun aku berniat untuk mengeluh. Empat musim sudah aku rasakan, berkala, sampai rasanya seperti sudah bersahabat dengan alam. Saat langit menumpahkan hujannya, aku akan membiarkan jari-jari kakiku bermain dalam genangan di sekitar. Setidaknya, ini menjadi satu-satunya waktu untuk membersihkan debu yang bersarang selama tiga musim lalu. Saat panas sudah tidak lagi bersahabat, aku akan mengandalkan tumitku untuk menopang seluruh tubuhku. Saat daun-daun berguguran, maka aku akan menyapu jalan dengan kaki telanjangku. Begitu juga saat salju, tak ada yang dapat menghalagi langkahku.

"Sebentar lagi musim panas, aku harap kau tak berniat untuk membakar tumitmu seperti tahun lalu," lagi-lagi ia mengomentariku. Dengan raut sebal, aku sibuk menyisir daun kering dihadapanku hingga merapat di bibir jalan. Ini lebih menyenangkan dari pada harus menanggapinya. Masih dengan alasan yang sama, malas berdebat. 

bersambung...

No comments:

Post a Comment