Saturday, 20 October 2012

Mengejar Fajar



“Tidak ada yang mencoba untuk menghitung waktu malam itu. Semua berusaha tenang, memfokuskan seluruh indra pada beberapa langkah ke depan. Tidak begitu jelas memang, tapi semua sepertinya sudah sangat pandai menerawang. Cerita di Sudut Panderman.”

Satu hal yang akan sangat mudah untuk ditangkap dalam perjalanan malam ini, dingin yang tidak begitu bersahabat.  Tanpa perlu banyak bicara pun, semua mulai merapatkan baju hangat masing-masing. Berharap itu dapat menjadi penawar dingin yang tepat.

Semua tampak tenang, kecuali suara mesin yang terus menderu. Bising memang, tapi setidaknya itu menunjukkan satu semangat yang sama. Sesekali di antara deretan roda dua itu, terdengar tawa yang membahana di sepanjang jalan. Meninggalkan jejak perjalanan malam ini. Ya, hanya dengan alasan sederhana, berbagi kebahagiaan.

Setelah sebagian dari waktu tidur terbuang bersama suara mesin. Akhirnya koloni kecil ini berpijak di kaki gunung. Tanpa perlu hitungan yang panjang, semua mungkin sudah dapat meraih sudutnya. Lalu menatap fajar yang sejak beberapa waktu lalu terbayang-bayang.

Namun perjalanan tidak selesai dalam hitungan detik. Setidaknya memerlukan sedikit otot untuk mencapai puncak. Sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengencangkan pinggang, semua membawa satu semangat menyusuri hutan yang cukup tenang.

Walau langit belum menunjukkan terangnya, namun rasa takut tidak begitu mengganggu. Mugkin sesekali datang, dengan berbagai alasan. Tak ada yang perlu ditakutkan, koloni kecil itu sepertinya saling menguatkan. Satu sama lain.

Waktu sepertinya sudah berjalan di luar perkiraan, namun koloni kecil ini belum juga menemukan puncaknya. Walau sepertinya ada seorang kapten yang mengaku tidak buta arah, namun sepertinya punjak masih cukup jauh dari pandangan. Semua bingung, lelah juga mungkin. Belum lagi debu yang kurang bersahabat mulai mengganggu pernafasan. Semua berkali-kali lipat lebih lelah dari biasanya.

Dengan bermodalkan pengalaman beberapa pekan yang lalu, sang kapten berusaha membuat koloni kecil ini tidak merasa resah. Perjalanan ini sudah sedikit membingungkan. Beberapa terlihat mulai putus asa. “Akankah kita mampu mengejar fajar?”

Akhirnya, dengan penuh rasa lelah, semua dapat menggapai puncak sebelum mentari muncul di sudut cakrawala. Gelap perlahan mulai luntur menjadi menjadi rona merah yang membias perlahan. Sangat disayangkan, mentari yang sangat ingin dinikmati pagi ini tertutup gunung yang lebih besar di sisi kanan. Walau hanya dapat menikmati biasnya, hamparan gunung-gunung di sejauh mata memandang, membuat siapapun tak akan pernah merasa kecewa.

Walau tanpa perlu sebuah penjelasan, semua berusaha menyumbunyikan bahagia. Beberapa berteriak-teriak, tak lagi mampu menahan rasa kagum yang luar biasa. Perjalan melelahkan beberapa waktu yang lalu sudah terbayarkan. Mungkin ini hanya sebatas kisah sederhana. Mengejar fajar.

No comments:

Post a Comment