Wednesday, 22 August 2012

hening

 
Aku tak sendiri. Penuh. Ruang ini justru ramai. Beberapa orang melingkar dalam sebuah pertemuan yang cukup singkat. Tanpa perlu sebuah penjelasan, aku sangat menanti-nanti pertemuan ini. Walau hanya sebatas waktu makan malam. Ditemani udara yang mulai membuatku sedikit membeku.

Kami ini dari daratan yang berbeda. Semua serba berbeda. Melebur menjadi satu lingkaran. Itu saja, aku bahagia. Cukup.

Namun ada apa gerangan dengan mereka yang duduk berdampingan denganku? Mereka bahkan tak bersuara. Mungkin hanya sebuah dentuman kecil, terdengar sesekali. Payah, seperti suara jangkrik saja. Kalau begini, sama saja aku berdiam sendiri.

Mungkin saja semua mulai merasa bingung. Ini suasana yang sangat jarang kami nikmati. Dalam hitungan tahun pun belum tentu. Semakin kecil interaksi yang pernah kami alami, mungkin juga memperkecil jangkauan dialog kami. Seperti sulit menemukan cerita yang pantas untuk disampaikan, pertanyaan yang layak untuk dilontarkan. Mungkin.

Dalam diam aku lebih banyak berfikir. Bagaimana harus memulai kata pertamaku. Jangan pula nantinya ini akan membuat suasana menjadi kurang menyenangkan. Semua mungkin juga melakukan hal yang sama seperti diriku. Sambil menegak sebotol teh, seolah-olah memang sedang sibuk. Ya, alasan yang baik untuk tidak angkat bicara.

Ingin rasanya membencinya. Membenci setiap detik yang berlalu. Terasa sangat sia-sia bagiku. Entah karna aku orang cukup jenaka, aku merasa gagal membuat waktu makan malam ini menjadi milikku. Rasanya jurusku tak mempan dengan orang-orang ini.

Lalu harus bagaimana aku?

Ya, nikmati saja setiap waktu yang terus berjalan. Toh, ini juga suasana yang terbilang langka. Setidaknya masih bisa saling mencuri pandang satu sama lain. Lalu menerawang ke pertemuan sebelumnya. Beberapa tahun lalu.

Kau banyak berubah.

No comments:

Post a Comment