Wednesday, 29 August 2012

gerah


Semua tak mendengar. Begitu juga denganku. Rasanya suara hati dan pikiran pribadi terdengar lebih riuh dari yang lainnya. Semua pun mulai angkat bicara. Tak satupun wajah yang menatap tanah. Semua menantang. Seperti sebuah arena pertarungan.

Aku gerah. Kali ini bukan keringat dingin karna aku mulai menciut. Tapi lebih kepada keringat yang menunjukkan rasa tak mau kalah dalam jiwaku. Rasanya mentari tak lagi sejauh hari kemarin. Kali ini, tepat di atas kepalaku. Begitu juga sekitarku.

Panas. Rasanya semua sudah tampak legam. Warna kulit kami hampir seragam karna terbakar teriknya. Semua kalah melawan situasi. Akhirnya kami duduk dan menjadi kobaran yang cukup besar. Gahar.

Sampai hitungan yang banyak, rasanya aku tak menemukan penawarnya. Angin pun rasanya tak mampu menyejukkan aku dan sekitarku. Mungkin perlu sebuah badai. Tidak yang kecil tentunya.

Sudah cukup saja. Aku mulai merasa risih, bajuku basah. Aku harus segera mengganti dengan yang baru. Tapi permainan ini belum menunjukkan waktu untuk berakhir. Mungkin harus melewati beberapa periode lagi, baru aku bisa bersalin.

Satu. Dua. Tiga. Aku akan terus menghitung waktu. Gerah.


No comments:

Post a Comment