Wednesday, 10 November 2010

sejuta pengorbanan ayah


Mungkin aku ga akan pernah bisa menulis semua yang pernah ayah berikan. Terlalu bayak dan bahkan otakku sendiri ga bisa buat ngesave semuanya.

1) Mungkin pengorbanan pertama yang ayah lakukan saat ayah mengantar mama untuk cek kehamilan di dokter. pengorbanannya sih ga seberapa. Tapi aku tau banyak harapan yang ayah simpan hari itu.
2) Setelah mama positif hamil, ayah berkorban untuk memberi mama nutrisi yang baik agar aku kelak lahir dengan kondisi yang sehat. itu terus berjalan sampai akhirnya aku lahir.
3) Di detik-detik pertama aku hidup, ayah membisikkan doa-doa ke dalam telingaku sampai aku merasa tenang.
4) Bersama dengan ibu, ayah membimbingku untuk tumbuh. Sampai aku dirasa bisa membimbing diriku sendiri.
5) Ayahku menjadi orang pertama yang mengantarkanku ke taman kanak-kanak, walau ayah akhirnya harus segera pergi karna pekerjaan memanggil.
6) Di kantor ayah sudah cukup berkeringat, tak sedikit tugas yang harus ia kerjakan. itu demi aku, mama, dan adik-adikku.
7) Saat aku mulai menginjak sekolah dasar, ayah terlihat bahagia dan rela mengantarku setiap pagi dengan jarak yang begitu jauh.
8) Sampai suatu saat, ayah memilih utuk membeli rumah baru yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolahku.
9) Namun apa yang aku berikan, hanya rasa sedih yang hebat untuk ayah. Saat aku di bangku kelas 3 sekolah dasar, aku sakit karna terlalu lama menahan penat di hati. aku mengalami kekerasan kecil di sekolah.
10) Aku tau hari itu ayah menangis di rumah sakit. ayah takut dokter memfonisku dengan sakit "sesuatu". Ayah enggan masuk, hanya menunggu di luar dengan cemas. untungnya aku baik-baik saja.
11) Ayah merelakan aku yang memilih untuk pindah sekolah dan kembali duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar karna beberapa alasan. Dan lagi-lagi banyak uang yang harus ayah keluarkan.
12) Aku tau ayah tak pernah menyesal dengan apa yang ia pilih, aku bahagia di sini. banyak yang bisa aku banggakan untuknya. di sini, di tempat baruku.
13) Walau saat sekolah menengah pertama aku tak lagi mampu memberikan kebanggaan itu, ayah tetap berkorban sampai aku tamat smp.
14) Lagi-lagi ayah harus berjuang dengan kerasnya, saat aku dengan egoisnya memilih melanjutkan sma di sebuah sekolah asrama bonafit yang terhitung mahal. Ayah tak banyak komentar, hanya berpesan kepadaku untuk rajin-rajin belajar.
15) Dan lagi-lagi ayah harus menerima kenyataan saat aku memilih pindah sekolah dengan alasan tidak betah. alas klasik yang aku sadar membuat ayah kecewa.
16) Kali ini ayah harus berusaha mencarikan aku sekolah yang baru. Yang dianggap baik dan aman.
17) Aku tau banyak uang yang ayah keluarkan, namun hati kerasku itu tidak juga melunak. Banyak uang yang aku hamburkan untuk hura-hura dan berboros ria. Dan lagi-lagi ayah tak banyak berkomentar.
18) Tiba saat aku aku harus menuju ke dunia perkuliahan. Banyak yang ayah keluarkan agar aku dapat diterima di kedokteran UGM. Mulai dari kursus dan buku-buku pelajaran.
19) Berkali-kali aku mencoba di UGM, namun aku selau gagal. Padahal ayah sudah berkorban banyak sekali. Mulai dari waktu, uang, dan segalanya. Hari itu aku benar-benar ingin menangis.
20) Leganya aku dapat diterima di UniBraw. Ayah cukup tenang hari itu karna aku bisa melanjutkan kuliah walau tidak sebagai mahasiswa kedokteran.
21) Dan masih banyak lagi pengorbanan-pengorbanan ayah yang ga bisa aku ceritakan. terlalu mulia.


Hari ini aku benar-benar ingin menangis, saat aku mengingat tentang ayah. Ayah yang begitu kuatnya mengahadapi aku dan berkorban banyak untukku. Ayah, aku mungkin masih akan mengecewakanmu sampai hari ini. namun doamu akan selalu aku butuhkan. Terima kasih ayah, untuk segalanya..

No comments:

Post a Comment