Showing posts with label puisi pus pus. Show all posts
Showing posts with label puisi pus pus. Show all posts

Sunday, 1 December 2013

Jangan mendebat sastra!

pict source: http://literary-tattoos.tumblr.com/

Jangan mendebat sastra! Walau hanya bentukan dari rangkaian bahasa. Ia selalu punya tutur yang liar, tanpa batasan. Kadang lembut, lalu membuatmu takut setelahnya. Karna ia peramu rasa paling jitu. Siapapun dapat tenggelam karna pekat bisiknya.

Jangan mendebat sastra! Walau sering kali kau bertanya tentang apa yang dicampurnya, ia tidak akan pernah membuka mulut. Sekalipun untuk sekedar menjawab kebingunganmu. Karna ia tercipta untuk membuatmu merenung. Memberi jeda untuk membayangkan apa yang sedang ia coba jabarkan.

Jangan mendebat sastra! Walau memiliki tafsir yang hampir berlapis-lapis, ia selalu punya penyampaian yang kontras bagi setiap penikmatnya. Karna baginya, logika takkan mampu melukiskan tubuhnya.Ia akan tetap bersembunyi dalam ruang imaji.

Jangan mendebat sastra! Walau tanpa kafein yang mengendap di pangkal cawannya, ia masuk dalam barisan candu akut. Selalu datang dengan teka-teki. Dan siapapun ingin memecahkannya, dalam barisan bait-bait. Karna ia tak penah memiliki rumus. Hanya sebatas teori rasa yang terus mengarung, jauh.

Saturday, 3 August 2013

gravitasi diri

pict source: http://oscar19th.wordpress.com/2012/07/05/belajar-teknik-levitasi/

Entah apa yang menyergap. Tapi langit hayat terus menyentak. Di dalamnya jutaan hasrat terpompa. Menguras akal batinku. Aku penat berjalur di lingkar yang semu.
  
Aku mulai berdalih. Mengukuhkan semua kilah lidahku. Menyelam untuk nyala yang lebih dalam. Meniupkan suluh yang lebih dari kobar. Aku ini pemburu kenamaan.

Dan jika jangka semakin mendekap. Aku akan mengawatnya rapat. Karna bayu menyangkarku dalam kilas nafsiku. Gravitasi diri.

Friday, 21 June 2013

solar plexus

pict source: dramirez484.tumblr.com

Di mana aliran statis itu akan merambat. Kilat. Melewati berjuta neuron dalam lautan eritrosit yang segar. Menyampaikan pesan sensorik hingga ke pangkal saraf. Menggetarkan setiap ujung telunjuk.

Seketika kejang menyerang. Gaya tarik dari dalam semakin menyengat. Lalu litas arteri dan vena seperti tak mengenal lelap. Memacu keringat untuk terus menyembur hingga tak satupun mengistirahatkan detaknya.

Lalu kapan pemberhentian ini beralamatkan solar plexus? Sedangkan motorik ini tidak sedikitpun memperlambat lajunya.  Menembus gerbang alveolus. Menghidupkan pesta karbon, mengudara. Lepas.

Namun ini bukan pendar-pendar cerebellum. Siapa pun tak mau hidup dengan sepadat ini.


Wednesday, 3 April 2013

Hanya

pict source: ismimei.wordpress.com

Untuk apa aku menjabarkan bahasaku dalam bendel cerita.
Jika akhirnya hanya seperti berdialog dengan diri sendiri.
Memojok dalam jeda antara sadar dan lelap.
Memutar ulang lembaran yang sudah menjadi sejarah.

Untuk apa aku menyelipkan namamu dalam setiap dongengku.
Jika akhirnya tak ada yang pernah kuupayakan.
Memilih menguncinya teramat rapat.
Sebagai bagian dari mimpi yang tak mungkin dilupakan.

Untuk apa aku menghabiskan sebotol pil tidur.
Jika akhirnya apa yang kurasa hanya hidup dalam lelapku.
Sebatas bunga selamat malam yang meneduhkan.
Menyisakan senyuman di ujung petang.

Lalu..

Untuk apa aku membingkai setiap ruang yang mengikat kita.
Jika akhirnya semuanya tak lebih sekedar benda semu.
Dan apa yang aku perangi dalam gemelut rasa.
Hanya sebatas klise tidur panjang kemarin malam.

Saturday, 4 August 2012

Rindu Badai


Badai tak lagi sederas musim lalu
Lebih tenang dan menenangkan

Bagaimana bisa aku rindu badai?
Kala tenang, mencari derasnya
Kala deras, rindu tenangnya

Bagaimana bisa badai menjauh?
Padahal kau ada di dalamnya
Badai menjagaku
Memisahkanku di sebuah padang hijau

Bagaimana jika badai tak datang?
Memisahkan kita terlalu lama

Bagaimana jika badai tiba sendiri?
Lalu mengabarkan kepergianmu

Monday, 22 August 2011

SUPERMAN

Aku tidak akan minta maaf, jadi jangan memaksa.
Biar saja aku begini, tenggelam karna kebencianku.
Benci karna kau selalu menjadi dewa..
Dewa yang orang kota bilang SUPERMAN.

Apanya yang SUPER? Aku bertanya..
Kau tak lebih dari seorang pria berbulu dada..
Seraaamm!! Membuatku semakin enggan menyentuhmu.
Mungkin kumpulan ego yang ada di dadamu itu..
Membuat manusia bodoh, terpesonaa..

Jika kau bangga dengan jubahmu.
Aku lebih bangga telanjang..
Jubahmu itu tak lebih dari bulu binatang..
Dari keledai hutan yang tak berdosa.

Hey kau yang mereka bilang SUPER..
Pergilah, sebelum aku memakanmu..
Dan menang...

Wednesday, 10 November 2010

#puisi ga penting..

Bangkai

Dan biarlah tersimpan rapat
Jauh di dalam ulu hatiku
Dan aku pun tak peduli
Sampai hatiku menjadi busuk
Dan lalu bangkai itu merasuk
Hingga anyir pun tercium